Ekonomi Iran Disebut di Ambang Kehancuran, Bos Bank Sentral Buka Suara
TEHERAN – Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, membantah klaim yang menyebut perekonomian Iran berada di ambang kehancuran. Ia menegaskan bahwa negaranya telah menunjukkan ketahanan yang cukup kuat meskipun menghadapi perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel, serta sanksi maksimum yang diberlakukan Washington.
Dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) di Bangkok, Hemmati mengatakan bahwa perekonomian Iran mampu bertahan menghadapi tekanan gabungan dari perang yang dilancarkan AS dan rezim Zionis serta sanksi ekonomi luas yang dijatuhkan Washington.
“Terlepas dari semua tekanan tersebut, perekonomian Iran telah menunjukkan ketahanan yang sangat baik. Klaim bahwa perekonomian Iran sedang mengalami kehancuran tidak lebih dari sekadar ilusi,” ujarnya.
Hemmati juga memaparkan sejumlah prioritas Bank Sentral Iran, yakni mengendalikan inflasi, menstabilkan ekspektasi inflasi, menjaga stabilitas keuangan, serta memastikan layanan perbankan dan sistem pembayaran tetap berjalan.
Ia menekankan bahwa meskipun Iran menghadapi tekanan ekonomi dan sanksi dari AS, Bank Sentral Iran memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Hal itu dilakukan antara lain dengan menyediakan valuta asing untuk memenuhi kebutuhan impor barang-barang pokok dan obat-obatan, sekaligus menekan laju kenaikan inflasi.
Pernyataan Hemmati muncul di tengah klaim para pejabat AS yang menggambarkan sanksi dan pembatasan ekspor minyak Iran sebagai bukti bahwa kehancuran ekonomi negara tersebut sudah semakin dekat.
Pada akhir September, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengklaim bahwa Iran akan segera kehabisan persediaan minyak yang dapat dijual ke China.
Ia juga berpendapat bahwa tekanan ekonomi yang semakin besar telah mendorong Teheran untuk mencari kesepakatan dengan Washington.
Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan pernyataan serupa. Ia mengeklaim bahwa Iran tengah mengalami kesulitan keuangan akibat kampanye tekanan yang dilancarkan terhadap negara tersebut.
Editor: Hadi Murtadha
